Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2015

Beginilah Akhlak Murid Terhadap Guru






Saidina Ali pernah berkata, "Barang siapa yang mengajar aku walaupun satu huruf maka dia adalah tuan kepada ku." Tuan yang dimaksudkan oleh Saidina Ali adalah gurunya.










Kunjungilah Guru-mu, Minta-lah Do'a & Nasehat Kepada Beliau ...

Imam Syafi'i Rohimahulloh Pernah Berkata ;

اصبر على مـر الجفـا من معلم # فإن رسوب العلم في نفراته

" Bersabarlah atas pahitnya cara guru mendidik, Sesungguhnya runtuhnya ilmu itu karena MENJAUHI GURU ..."







Foto Habib Ali Al-Jifri Sungkem kepada Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz,
Nafa'anallohu Biulumihima ..




" العلم نور  " Bagaimana caranya membuat ilmu anda bercahaya ? apakah ilmu anda barokah ?
Jadilah seorang "Santri" yang sesungguhnya...



Adab-adab mulia ketika berguru :


1. Memberi salam apabila bertemu
2. Bercakap menggunakan bahasa yang sopan
3. Manis muka menerima teguran dan nasihat guru
4. Membuat kerja yang disuruh dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh
5. Menegur atau bertanya khabar apabila bertemu guru di luar kawasan sekolah
6. Mendoakan kebaikan dan kebajikannnya
7. Mengeratkan silaturahim walaupun telah tamat pengajian
8. Menziarahi guru ketika berkelapangan / di hari perayaan
9. Menghormati guru sepanjang masa
10.Mengucap terima kasih kepada guru apabila memperolehi kejayaan


Dalam kitab Ta'lim Muta'allim menerangkan bahwa selain memuliakan guru juga harus memuliakan dhurriyahnya atau keturunannya


Hikmah apabila beradab dengan guru :

1. Ilmu yang dipelajari diberkati Allah
2. Membentuk peribadi dan akhlak mulia
3. Memperolehi kejayaan dunia dan akhirat
4. Mudah mengingati dan memahami pengajaran guru
5. Ilmu yang dipelajari akan berkekalan dan diamalkan
6. Sentiasa terdorong mengamalkan sifat terpuji
7. Minda cerdas dan pantas
8. Terlindung daripada perkara terkeji


Kata mutiara jawa, "Aku ino naliko golek ilmu, tapi aku mulyo naliko wong podho golek ilmuku"
Artinya, "Aku hina ketika aku mencari ilmu, tapi aku mulya ketika orang-orang mencari ilmuku"


Adab-adab terpuji berguru mengikut Imam Al-Ghazali :

1. Apabila bertemu dengan guru hendaklah memberi salam.
2. Jangan banyak bercakap di hadapan guru.
3. Jangan bercakap sebelum guru bertanya.
4. Jangan bertanya sebelum meminta izin dan dizinkan.
5. Jangan menyangkal (tunjuk rasa tidak puas hati) terhadap guru.
6. Jangan mengisyaratkan kepada guru dengan menyalahi pendapatnya.
7. Jangan berbisik dengan rakan di sebelah ketika guru mengajar.
8. Jangan berpaling ke kiri dan ke kanan (bermain) di hadapan guru.
9. Jangan bertanya banyak soalan kepada guru ketika guru letih.
10.Apabila guru berdiri hendaklah kita berdiri sebagai menghormatinya.
11.Jangan mengikuti guru dengan pelbagai pertanyaan setelah guru
meninggalkan majlis.
12.Jangan bertanyakan guru di tengah perjalanan sehingga dia sampai
ke rumahnya atau ke tempat duduknya.
13.Jangan bersikap buruk sangka terhadap pekerjaan guru.



Imam Asy-Syafie pernah mengungkap :

“Bersabarlah kamu dalam perjalanan jauh demi menemui gurumu
sesungguhnya lautan ilmu itu diperoleh menerusi perjalanan kamu menemuinya. Sesiapa yang tidak berasa kepahitan menuntut ilmu sedetik, ia pasti menelan kehinaan dan kejahilan sepanjang hayatnya.”


Antara hak guru yang perlu ditunaikan oleh murid-murid adalah :


1. Merendah diri terhadap guru.
2. Memandang guru dengan penuh hormat dan meyakini bahawa keperibadian mereka adalah lebih sempurna.
3. Panggillah guru dengan gelaran mulia sebagai tanda menghormati mereka.
4. Mengiktiraf hak guru terhadap diri kita.
5. Mendoakan untuk guru sepanjang hayat mereka.
6. Berkelakuan penuh sopan ketika mengikuti pembelajaran.
7. Meminta izin guru sebelum memasuki kelas, rumah atau tempat yang khusus seperti bilik guru.
8. Mendengar isi pengajaran dengan tekun walaupun topik perbincangan telah diketahui.
9. Tidak mengemukakan pertanyaan bagi sesuatu masalah yang telah pun diketahui jawapannya.
10. Tidak meninggal majlis pengajaran guru sebelum waktunya kecuali uzur syar'i..


Ingat, Mencari ilmu itu layaknya air yang mengalir, semakin kamu dibawah maka akan semakin deras aliran air yang mengalir. dan tak akan mungkin air mengalir ke atas, maka Tawaddlu'lah ...


Khidmat = Barokah

Jumat, 18 September 2015

Jangan berhenti belajar

Jangan berhenti belajar !!!


Buya Hamka

Sewaktu baru kepulangannya dari Timur Tengah, Prof. DR. Hamka, seorang pembesar Muhammadiyyah, menyatakan bahwa Maulidan haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi Saw., orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah dan itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi Saw.
Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi Saw saat ada yang mengundangnya. Orang-orang sedang asyik
membaca Maulid al-Barzanji dan bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya. Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti itu namun setelah tua kok berubah?”
Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas.”
Di riwayat yang lain menceritakan bahwa, dulu sewaktu mudanya Buya Hamka dengan tegas menyatakan bahwa Qunut dalam shalat Shubuh
termasuk bid’ah! Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Saw. Sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam shalat Shubuhnya.
Namun setelah Buya Hamka menginjak usia tua, beliau tiba-tiba membaca doa Qunut dalam shalat Shubuhnya. Selesai shalat, jamaahnya pun bertanya heran: “Buya Hamka, sebelum ini tak pernah terlihat satu kalipun Anda mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh. Namun mengapa sekarang justru Anda mengamalkannya?”
Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya. Dulu saya baru baca satu kitab. Namun sekarang saya sudah baca seribu kitab.”
Gus Anam (KH. Zuhrul Anam) mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al- Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani yang mengatakan: “Idzaa zaada nadzrurrajuli waktasa’a fikruhuu qalla inkaaruhuu ‘alannaasi.” (Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut
pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain).
Kesimpulannya adalah : orang yang suka menyalahkan orang lain berarti pemahaman ilmunya masih dangkal


" Orang yang bodohnya sempurna ialah dia yang sudah merasa pintar "


Selasa, 15 September 2015

Kotak Amal Masjid Hidayatul Mujtahidin


Masjid Hidayatul Mujtahidin sekitar seminggu ini sudah mempunyai kotak amal yang mana kotak amal ini dibuat sendiri oleh santri Hidayatul Mujtahidin, berawal dari kotak kayu penyimpanan peralatan yang sudah tidak digunakan lagi disulap menjadi sebuah kotak amal yang bagus, awalnya berencana dicat tapi salah satu pihak ndalem menolak dan memilih untuk ditempelkan kertas yang sudah didesain dengan tulisan kotak amal dengan print pondok Hdayatul Mujtahidin.
Semoga untuk kedepannya santri Hidayatul Mujtahidin lebih cerdas berkreatif dengan menggunakan peralatan dan dana yang seadanya. SANTRI BISA !!!




Tampak atas

Tampak Belakang


Tampak samping


Tampak Depan












Jumat, 11 September 2015

Cerita Motivasi "Belajar dari bapak tua yang baik"

Belajar dari bapak tua yang baik



Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak berbahagia.

Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamu itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya”, ujar Pak Tua itu.

“Pahit.., pahit sekali rasanya…”, jawab tamu itu sambil meludah kesamping.

Pak Tua sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga didalam hutan didekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ketepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”, perintah Pak Tua. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak Tua kembali bertanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam didalam air itu?”, Tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan kebapakan Pak Tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan itu adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama. Dan memang akan tetap selalu sama.”

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali memberi nasehat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung sgalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, ‘sang orang bijak’, kembali menyimpan ‘segenggam garam’ untuk anak muda lain yang sering datang kepadanya membawa keresahan jiwa…

Sumber : http://terimakasihibu.blogspot.com

Tambahan kata bijak dari admin


Bencana yang besar dari Allah akan menjadi nikmat yang besar pula jika kita syukuri

NB: Maaf apabila sementara hanya bisa posting cerita milik orang lain,
tapi ini sebagai permulaan untuk memotivasi santri lainnya untuk mengarang cerita sendiri.
bagi yang ingin memposting cerita karangan sendiri bisa menghubungi saya sebagai admin ( Agus Dowi ) atau bisa langsung melalui pesan facebook. klik disini

Artikel Terpopuler